Advertorial

DPRD Bontang Dorong Penanganan Stunting dan TB Tak Hanya Bertumpu pada Puskesmas

 

Latestbontang.com,BONTANG – DPRD Bontang mendorong penanganan stunting dan Tuberkulosis (TB) di Kecamatan Bontang Barat dilakukan secara lintas sektor. Persoalan kesehatan dinilai tidak cukup hanya ditangani oleh Puskesmas, tetapi membutuhkan dukungan pemerintah, kelurahan, kader, hingga masyarakat.

Anggota Komisi C DPRD Bontang, Bonnie Sukardi, menilai keterlibatan berbagai unsur menjadi penting karena persoalan stunting maupun TB berkaitan langsung dengan kondisi masyarakat di tingkat keluarga dan lingkungan.

Menurutnya, DPRD memiliki perhatian terhadap upaya pemerintah dalam menekan persoalan kesehatan yang masih ditemukan di wilayah Bontang, termasuk di Kecamatan Bontang Barat.

“Persoalan kesehatan seperti stunting dan TB ini memang tidak bisa diselesaikan hanya oleh Puskesmas. Harus ada keterlibatan semua pihak, termasuk pemerintah wilayah, kader, keluarga dan masyarakat,” ujarnya saat menghadiri kegiatan Puskesmas Bontang Barat, Selasa (29/9/2026).

Ia mengatakan, upaya penanganan juga perlu dilakukan secara berkelanjutan. Terlebih, penanganan stunting membutuhkan proses panjang dan tidak dapat dilihat hanya dari intervensi ketika kasus sudah ditemukan.

“Untuk stunting, pencegahannya harus dimulai dari keluarga. Karena itu, edukasi dan pendampingan kepada masyarakat juga menjadi bagian penting dalam upaya menekan kasus,” katanya.

Bonnie juga menyoroti pentingnya penguatan deteksi dini terhadap TB. Menurutnya, semakin cepat kasus ditemukan, semakin cepat pula penanganan dapat dilakukan sehingga risiko penularan di lingkungan masyarakat dapat ditekan.

“Kalau ada indikasi atau gejala, masyarakat harus didorong untuk memeriksakan diri. Jangan sampai baru diketahui ketika kondisinya sudah parah atau sudah menularkan kepada orang lain,” ujarnya.

Ia menilai program pemeriksaan kesehatan yang dilakukan Puskesmas perlu dimanfaatkan secara maksimal untuk menemukan kasus yang selama ini belum terdeteksi.

“Pemeriksaan seperti ini harus terus didorong. Jangan hanya menunggu masyarakat datang ketika sudah sakit, tetapi bagaimana kasus bisa ditemukan lebih awal,” tuturnya.

Dalam Lokakarya Mini Lintas Sektor Triwulan III Puskesmas Bontang Barat, persoalan kesehatan di wilayah tersebut turut dibahas bersama berbagai unsur. Forum itu melibatkan perwakilan Kelurahan Kanaan, Telihan dan Belimbing, KUA, PLKB, kader Posyandu, tenaga pendidik, ketua RT, Babinsa, Bhabinkamtibmas serta DPRD.

Kasubbag Tata Usaha Puskesmas Bontang Barat, Sarce Mangopo, mengatakan persoalan kesehatan membutuhkan keterlibatan seluruh sektor agar penanganannya tidak berjalan sendiri-sendiri.

“Harapan kita, masalah kesehatan ini tidak hanya menjadi tugas tenaga kesehatan saja, melainkan tanggung jawab semua lintas sektor terkait, sehingga penyelesaiannya tidak berjalan sendiri,” kata Sarce.

Untuk stunting, Sarce menyebut prevalensi di Bontang Barat tergolong paling rendah di Kota Bontang. Meski demikian, kasus masih ditemukan sehingga penanganannya tetap membutuhkan perhatian.

Sementara untuk TB, tren kasus tahun ini disebut meningkat di Kelurahan Kanaan. Puskesmas kemudian memperkuat penemuan kasus melalui Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dirangkaikan dengan penapisan TB.

Dirinya menambahkan, DPRD akan terus mendorong agar persoalan kesehatan menjadi perhatian bersama, terutama dalam hal pencegahan dan deteksi dini.

“Yang paling penting adalah bagaimana masyarakat mendapatkan akses pemeriksaan dan penanganan sedini mungkin. Karena kalau bisa dicegah dan ditemukan lebih awal, tentu penanganannya akan lebih mudah,” pungkasnya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button