Latestbontang.co,BONTANG – Upaya penurunan stunting di Kota Bontang tidak hanya dilakukan melalui edukasi kesehatan dan pemenuhan gizi, tetapi juga dengan memperkuat kualitas data sebagai dasar penyusunan program yang tepat sasaran.
Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Bontang menilai akurasi data menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung keberhasilan percepatan penurunan stunting di daerah.
Kepala DP3AKB Bontang, Eddy Forestwanto, mengatakan pihaknya telah meningkatkan kapasitas Kader Tim Pendamping Keluarga (TPK) sejak April 2026. Salah satu fokus utama dalam pelatihan tersebut adalah kemampuan kader dalam melakukan verifikasi dan validasi data keluarga berisiko stunting.
Menurutnya, data yang valid menjadi fondasi penting dalam menentukan bentuk intervensi yang dibutuhkan oleh setiap keluarga. Dengan data yang akurat, pemerintah dapat memastikan bantuan dan program yang diberikan benar-benar menyasar kelompok yang membutuhkan.
“Para kader sudah diberikan materi tentang pemanfaatan aplikasi Elektronik Siap Nikah dan Siap Hamil (Elsimil), verifikasi dan validasi data Keluarga Risiko Stunting (KRS), hingga pengisian Konsolidasi Operasional Tim Pendamping Keluarga (KO TPK),” ujar Eddy saat dikonfirmasi, Senin (18/5/2026).
Ia menjelaskan, peran kader TPK tidak hanya sebatas mengumpulkan data di lapangan. Mereka juga menjadi ujung tombak dalam memastikan informasi yang masuk ke sistem benar-benar sesuai dengan kondisi keluarga yang didampingi.
Dengan data yang lebih akurat, pemerintah dapat memetakan wilayah maupun kelompok masyarakat yang memiliki risiko stunting lebih tinggi. Hal tersebut dinilai penting agar langkah pencegahan dapat dilakukan lebih cepat dan efektif.
Selain penguatan data, kader juga dibekali kemampuan melakukan pendampingan terhadap calon pengantin, ibu hamil, ibu pasca melahirkan, hingga keluarga yang memiliki balita berisiko stunting. Pendampingan tersebut mencakup edukasi kesehatan, pemenuhan gizi, hingga pola asuh anak.
DP3AKB Bontang menargetkan prevalensi stunting dapat ditekan hingga 12 persen pada tahun 2026. Target tersebut diyakini dapat dicapai apabila seluruh pihak, termasuk kader pendamping keluarga, mampu menjalankan tugas secara optimal di lapangan.
“Melalui data yang akurat dan pendampingan yang maksimal, kami berharap intervensi yang diberikan semakin tepat sasaran sehingga upaya percepatan penurunan stunting di Bontang dapat berjalan lebih efektif,” pungkasnya. (Re)




