Latestbontang.com,BONTANG – Anggota Komisi A DPRD Bontang, Arfian Arsyad, mendorong sekolah mengambil peran lebih aktif dalam upaya pencegahan kehamilan usia dini. Hal itu disampaikannya menyusul munculnya informasi adanya tiga perempuan di bawah umur yang melahirkan di salah satu rumah sakit swasta di Kota Bontang.
Menurut Arfian, persoalan kehamilan usia dini tidak bisa dipandang semata sebagai masalah individu atau keluarga. Fenomena tersebut harus menjadi perhatian bersama karena berkaitan dengan masa depan generasi muda serta kualitas sumber daya manusia di daerah.
Ia menilai lingkungan sekolah merupakan salah satu tempat paling strategis untuk memberikan edukasi sekaligus membentuk karakter peserta didik. Sebab, sebagian besar waktu remaja dihabiskan di lingkungan pendidikan sehingga sekolah memiliki peluang besar untuk menanamkan nilai-nilai positif sejak dini.
“Sekolah bukan hanya tempat belajar mata pelajaran, tetapi juga tempat membentuk karakter, etika, dan cara berpikir anak-anak kita dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan,” ujarnya, Rabu (24/6/2026).
Politikus tersebut mengatakan pendidikan karakter perlu diperkuat dan berjalan beriringan dengan edukasi mengenai kesehatan reproduksi, pergaulan sehat, serta tanggung jawab dalam mengambil keputusan. Menurutnya, penyampaian materi tersebut harus dilakukan secara tepat agar siswa memperoleh pemahaman yang benar sesuai usia mereka.
Arfian menilai tantangan yang dihadapi remaja saat ini jauh lebih kompleks dibandingkan beberapa tahun lalu. Perkembangan teknologi informasi dan kemudahan mengakses media sosial membuat anak-anak lebih cepat menerima berbagai informasi, termasuk yang belum tentu sesuai dengan usia maupun tingkat kedewasaan mereka.
Karena itu, ia menilai pendekatan pendidikan juga harus terus menyesuaikan perkembangan zaman. Sekolah didorong tidak hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga menyediakan ruang komunikasi yang sehat sehingga siswa merasa nyaman berkonsultasi ketika menghadapi persoalan pribadi maupun pergaulan.
Menurutnya, guru, khususnya guru bimbingan dan konseling, dapat menjadi garda terdepan dalam memberikan pendampingan kepada siswa. Dengan komunikasi yang baik, berbagai persoalan yang berpotensi mengarah pada perilaku berisiko dapat dideteksi lebih awal.
Selain sekolah, Arfian juga menekankan pentingnya keterlibatan orang tua dalam melakukan pengawasan dan membangun komunikasi terbuka dengan anak. Ia menilai pendidikan di sekolah tidak akan berjalan optimal apabila tidak didukung pembinaan yang baik di lingkungan keluarga.
Ia juga berharap pemerintah daerah melalui organisasi perangkat daerah terkait terus memperkuat program edukasi bagi remaja, termasuk menggandeng sekolah, tenaga kesehatan, tokoh masyarakat, dan organisasi kepemudaan agar upaya pencegahan dapat dilakukan secara menyeluruh.
Menurut Arfian, pencegahan merupakan langkah yang jauh lebih efektif dibandingkan menangani dampak yang muncul setelah kasus terjadi. Karena itu, seluruh pihak perlu membangun sinergi agar anak-anak mendapatkan pendampingan yang memadai selama masa pertumbuhan.
“Semua pihak harus terlibat agar anak-anak kita mendapatkan pendampingan yang cukup dan tidak kehilangan arah dalam pergaulan,” tutupnya.




