Site icon Latest Bontang

Pemkot Bontang Perkuat Strategi Komunikasi untuk Percepat Penurunan Stunting

Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni (tengah)

Latestbontang.co,BONTANG – Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang terus memperkuat berbagai strategi percepatan penurunan stunting. Salah satunya melalui peningkatan kemampuan komunikasi petugas kesehatan agar edukasi kepada masyarakat lebih efektif dan mampu mendorong perubahan perilaku hidup sehat.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan Orientasi Penguatan Komunikator Metode Komunikasi Antarpribadi (KAP) bagi Petugas Kesehatan Tahun 2026 yang digelar Dinas Kesehatan Kota Bontang di Hotel Equator Bontang, Rabu (3/6/2026).

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari itu dibuka langsung oleh Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni. Hadir pula Kepala Dinas Kesehatan Bontang Toetoek Pribadi Ekowati, perwakilan Bapperida, DP3AKB, serta seluruh pimpinan BLUD Puskesmas se-Kota Bontang.

Wali Kota Neni Moerniaeni menegaskan bahwa keberhasilan program penurunan stunting tidak hanya bergantung pada intervensi kesehatan, tetapi juga kemampuan petugas dalam menyampaikan pesan kepada masyarakat secara tepat dan menyentuh.

Menurutnya, komunikasi yang persuasif, santun, dan penuh empati menjadi kunci untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terkait pola asuh, pemenuhan gizi, sanitasi, hingga penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

“Pelatihan ini harus menghasilkan dampak nyata sehingga target penurunan stunting di Kota Bontang dapat tercapai. Peningkatan kompetensi tenaga kesehatan dan kolaborasi bersama masyarakat merupakan investasi penting bagi masa depan daerah,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Bontang, Toetoek Pribadi Ekowati menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari implementasi Pilar Kedua Strategi Nasional Percepatan Penurunan Stunting sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021.

“Melalui pelatihan ini, para tenaga kesehatan dibekali kemampuan komunikasi antarpribadi yang lebih efektif untuk mendampingi masyarakat, khususnya keluarga yang memiliki balita maupun ibu hamil yang menjadi kelompok sasaran utama pencegahan stunting,” katamya.

Untuk memperkuat kapasitas peserta, Dinkes menghadirkan narasumber dari Forum KAP Jakarta dan Dinas Kesehatan Kulon Progo yang memiliki pengalaman dalam penerapan metode komunikasi perubahan perilaku di masyarakat.

Sebanyak 71 tenaga kesehatan yang mengikuti orientasi juga tidak hanya menerima materi di dalam kelas. Mereka langsung diterjunkan ke lapangan untuk melakukan praktik komunikasi kepada warga melalui kegiatan Bina Keluarga Balita (BKB) dan institusi sekolah.

Dalam praktik tersebut, para peserta memberikan edukasi mengenai pentingnya pemenuhan gizi keluarga, penerapan PHBS, serta perbaikan sanitasi lingkungan sebagai langkah konkret mencegah stunting sejak dini.

Melalui penguatan kapasitas tenaga kesehatan ini, Pemkot Bontang berharap upaya pencegahan stunting tidak hanya berjalan melalui program layanan kesehatan, tetapi juga didukung perubahan perilaku masyarakat yang berkelanjutan sehingga target penurunan angka stunting dapat tercapai secara optimal. (Re)

Exit mobile version