PENAJAM — Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) menekankan pentingnya deteksi dini sebagai strategi utama menekan angka anak putus sekolah. Satuan pendidikan didorong lebih sigap membaca tanda-tanda siswa yang mulai rentan meninggalkan bangku sekolah.
Kabid PAUD dan PNF Disdikpora PPU, Durajat, menjelaskan bahwa indikasi anak berisiko putus sekolah kerap terlihat sejak awal, mulai dari perubahan perilaku hingga pola ketidakhadiran.
“Kalau anak mulai sering tidak masuk atau kewalahan mengikuti pelajaran, itu sudah sinyal. Sekolah harus cepat memanggil dan mencari tahu apa masalahnya,” ujarnya, Sabtu (22/11/2025).
Menurutnya, sebagian besar kasus putus sekolah berakar dari persoalan ekonomi dan minimnya respons cepat dari pihak sekolah. Bahkan, hal sederhana seperti perlengkapan belajar yang tidak memadai dapat membuat siswa kehilangan percaya diri hingga berhenti sekolah.
“Kalau memungkinkan, sekolah bisa membantu kebutuhan dasar mereka. Kadang masalahnya kecil, tapi berdampak besar,” tambahnya.
Untuk memperkuat pencegahan, Disdikpora akan mengumpulkan sekolah dan lembaga pendidikan guna menyeragamkan mekanisme deteksi dini Anak Tidak Sekolah (ATS).
“Kami ingin guru lebih peka dengan kondisi siswanya, bukan hanya soal akademik, tapi juga ekonomi dan emosional. Mengajar saja tidak cukup—pendidikan butuh kepedulian,” tegasnya. (adv)

