JMSI

Pemberantasan Buta Aksara Di Kalangan Orang Dewasa dengan Pendidikan Andragogi

Oleh : Fuku Anergki Mahasiswa Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Semarang

Kunci sukses kemajuan negara terletak pada seberapa banyak bangsa nya bisa mengenyam pendidikan. Karena, kemajuan sebuah negara didukung dengan kualitas sumber daya manusia nya yang luar biasa. Dalam hal ini, pendidikan sangat berperan penting untuk membantu mewujudkan sebuah negara yang bisa disegani dan dihormati oleh negara lain.

Untuk itu, pendidikan tidak seharusnya diajarkan pada bibit-bibit muda saja yang akan meneruskan tonggak estafet kepemimpinan di masa depan bangsa tetapi juga harus diajarkan pada kalangan masyarakat orang dewasa agar pendidikan dapat dirasakan oleh seluruh kalangan dan untuk memberantas kasus buta aksara yang sering menjadi persoalan dan tantangan negara di dunia terutama di Indonesia.

Di Indonesia, pemberantasan buta aksara sudah dilaksanakan oleh pemerintah setiap tahunnya untuk membantu meningkatkan kesejahteraan kehidupan masyarakat. Dilansir dari laman resmi Kemendikbud, presentase buta aksara di Indonesia pada tahun 2020 sebanyak 1,71 persen atau sebanyak 2.961.000 orang. Artinya, pemberantasan buta akasara di Indonesia sudah hampir dituntaskan sepenuhnya oleh pemerintah dan merupakan angka yang cukup menarik perhatian semua pihak untuk terus memberantas buta aksara di seluruh penjuru negeri.

Namun, hingga saat ini masih sering dijumpai masyarakat yang tidak bisa menelaah informasi antara yang benar dan informasi palsu. Buta aksara bukan sekedar tidak bisa membaca, dan menulis saja. Tetapi, berkaitan juga dengan media/informasi, finansial, dan numerasi. Masyarakat yang tidak dapat menelaah informasi dapat menjadi persoalan yang serius untuk pemerintah hadapi karena telah banyak bukti yang terjadi akibat berita/informasi palsu yang ditelan mentah oleh masyarakat. Bukti konkret dapat dilihat pada kasus berita palsu yang menyebar digawai pada saat demo UU Cipta Kerja Omnibus Law yang terjadi tahun 2020 lalu. Berita palsu yang tersebar digawai tersebut menyulut emosi para buruh dan mahasiswa yang mengakibatkan semakin ramainya pendemo pada saat itu. Hal-hal diatas sangat mungkin terulang kembali apabila pemerintah tak cepat menuntaskan buta aksara di Indonesia. Hal tersebut juga mengindikasikan bahwa sebagian besar kalangan orang dewasa masih belum bisa menelaah informasi dan kurang berpikir kritisserta mudah terhasut dengan informasi yang beredar.

Menurut Adinda (dalam Aziza, dkk:2018) orang yang mampu berpikir kritis merupakan orang yang mampu menyimpulkan apa yang diketahuinya, mengetahui cara menggunakan informasi untuk memecahkan permasalahan, dan mampu mencari sumber-sumber informasi yang relevan sebagai pendukung pemecah masalah. Kemampuan menelaah/mencari sumber-sumber informasi yang relevan dan menganalisis segala hal ini bisa menjadi tameng yang kuat agar terhindar dari berbagai macam informasi palsu dan tidak mudah terhasut pada informasi yang beredar. Hal ini tentunya juga bisa diajarkan melalui pendidikan orang dewasa (Andragogi). Andragogi berasal dari bahasa Yunani kuno “aner”, dengan akar kata andr– yang bermakna laki-laki, bukan anak laki-laki atau orang dewasa, dan agogos yang bermakna membimbing atau membina, maka andragogi secara harfiah dapat diartikan sebagai ilmu dan seni mengajar orang dewasa. Dalam pendidikan andragogi membelajarkan orang dewasa bukan menyuruh/memaksa tetapi mengajak sambil mengajarkan sesuai kebutuhan, situasi dan kondisi menjadikan belajar sebagai suatu hal yang menyenangkan.

Dalam pendidikan orang dewasa (andragogi) cenderung berfokus pada diskusi yang berarti warga belajar bisa saling bertukar sudut pandang antara satu dengan yang lainnya terkait berbagai informasi yang beredar dan menganalisis bersama apakah informasi tersebut relevan atau tidak.  Diskusi yang dilakukan bisa diawali dengan membahas satu topik yang sedang viral. Hal ini akan mempermudah orang dewasa sebagai warga belajar untuk berpendapat terkait fakta umum dari topik yang sedang viral tersebut. Dilanjut dengan membandingkan informasi dari sumber-sumber lain yang relevan tapi harus informasi yang membahas topik yang sama. Setelah itu, apabila informasi dari sumber satu dengan sumber lainnya sama maka artinya informasi itu dapat dijamin keasliannya/tidak palsu.

Perlu diketahui pendidikan orang dewasa (andragogi) selalu ada seorang fasilitator yang mempersiapkan prosedur untuk melibatkan warga belajar agar berpartisipasi aktif. Oleh karena itu, kepuasaan warga belajar pada pendidikan andragogi inijuga bergantung pada bagaimana fasilitator mempersiapkan prosedurnya. (*)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button