Latestbontang.co,BONTANG – Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kota Bontang menilai upaya percepatan penurunan stunting tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan gizi anak, tetapi juga dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial yang masih menjadi tantangan di masyarakat.
Kepala DP3AKB Bontang, Bakhtiar Mabe, mengatakan pernikahan usia dini dan masih adanya penolakan terhadap imunisasi menjadi persoalan yang harus mendapat perhatian bersama. Menurutnya, kedua faktor tersebut dapat berdampak pada kesehatan ibu dan anak serta berpotensi meningkatkan risiko stunting.
Ia menjelaskan, pencegahan stunting idealnya dilakukan sejak sebelum kehamilan. Karena itu, edukasi kepada remaja, calon pengantin, pasangan usia subur, hingga ibu hamil menjadi bagian penting dalam strategi yang dijalankan pemerintah.
Selain itu, pola hidup sehat di lingkungan keluarga juga menjadi faktor yang tidak dapat diabaikan. Ketersediaan sanitasi yang layak, akses air bersih, serta lingkungan yang bebas asap rokok dinilai berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak.
“Penanganan stunting harus dilakukan secara menyeluruh. Tidak cukup hanya memberikan bantuan gizi, tetapi juga memastikan lingkungan tempat anak tumbuh mendukung kesehatan mereka,” ujarnya, Senin (2/6/2026).
Menurutnya, keterlibatan masyarakat menjadi kunci dalam mengatasi berbagai tantangan tersebut. Oleh karena itu, DP3AKB terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai elemen, mulai dari Ikatan Bidan Indonesia (IBI), PKK, penyuluh keluarga berencana, hingga Tim Pendamping Keluarga (TPK).
Kolaborasi tersebut diarahkan untuk memperluas jangkauan edukasi kepada masyarakat hingga tingkat RT dan kelurahan. Dengan pendekatan yang lebih dekat, diharapkan pemahaman masyarakat terkait pentingnya imunisasi, kesehatan reproduksi, dan pencegahan stunting dapat semakin meningkat.
Di sisi lain, Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang juga terus memperkuat langkah percepatan penurunan stunting melalui Tim Percepatan Pencegahan dan Penurunan Stunting (TP3S). Tim ini bertugas mengoordinasikan berbagai program lintas sektor agar berjalan secara terpadu dan tepat sasaran.
Dirinya menegaskan bahwa keberhasilan menekan angka stunting membutuhkan dukungan seluruh pihak. Pemerintah, tenaga kesehatan, kader, hingga masyarakat harus bergerak bersama agar target penurunan prevalensi stunting dapat tercapai secara berkelanjutan.
“Keberhasilan penanganan stunting membutuhkan kerja bersama, data yang akurat, serta komitmen tanpa sekat dari seluruh pihak. Dengan sinergi yang kuat, kita dapat melahirkan generasi Bontang yang lebih sehat dan berkualitas,” pungkasnya. (Re)

